Pengertian Aqidah
Secara bahasa Aqidah diambil dari kata العقد yang artinya ربط الشئ , yaitu mengikat sesuatu atau sesuatu yang terikat kokoh, dikatakan ( واعتقدت كذا عقدت عليه القلب والضمير ) yakin dan meyakini sesuatu dengan hati dan perasaannya .
Sedangkan menurut istilah, adalah hal-hal yang di ketahui seseorang dan yang diyakini dengan hatinya berupa berbagai perkara agama , definisi lain mengatakan bahwa Aqidah adalah Iman kepada Allah, para malaikatnya, Kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, Hari Akhir, dan Qodho’ serta Qadr baik atau buruknya, dan segala perkara-perkara I’tiqodiyah yang wajib diimani/diyakini dan tidak ada keraguan .
Urgensi Aqidah
Aqidah Ash-Shohihah ialah Sebuah Asas atau akar yang berdiri diatasnya agama dan bersamanya sahnya segala amalan/pekerjaan, Seperti Firman Allah dalam surat Al-Kahfi dan Az-Zumar, yang Artinya :
“ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. ( Al-Kahfi : 110 )
“ Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi” ( Az-Zumar : 56 )
Ayat-ayat mulia diatas serta makna yang terkandung didalamnya menunjukkan bahwasanya segala amalan-amalan tidak akan diterima kecuali terbebas dari perkara Syirk atau tanpa adanya Aqidah serta keyakinan. Dengan itu Rasulullah SAW lebih memperhatikan tentang perbaikan Aqidah yaitu dengan melakukan da’wah pertama kali untuk menyembah kepada Allah dan meninggalkan penyembahan selain-Nya, seperti firman Allah yang Artinya :
“ Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) ”. ( An-Nahl : 36 )
Dan setiap Rasul pun berkata untuk Ber-I’tiqod kepada Allah pada tiap awal Khutbahnya kepada para umatnya ( Nabi Nuh, Saleh, Syu’aib dan para nabi lainnya ), seperti tertera pada firman Allah surat Al-A’raf ayat 59,65,73 dan 85, yaitu :
Artinya : “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya”.
Kemudian dicontohkan lagi oleh baginda Rasulullah SAW ketika berada di makkah selama 13 tahun, beliau berseru kepada Manusia untuk bertauhid dan memperbaiki Aqidah-aqidah mereka karena aqidah adalah asas/akar yang akan membangun sebuah agama. Itu pun dicontoh oleh para Ulama’ dan Da’i pada setiap Zaman dengan memulai dakwahnya dengan berseru untuk bertauhid dan memperbaiki Aqidah kemudian beralih setelahnya kepada perkara-perkara agama lainnya.
Prinsip-Prinsip Dalam Aqidah
Disalin dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah oleh Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan Dar Al-Gasem PO Box 6373 Riyadh Saudi Arabia, penerjemah Abu Aasia
________________________________________________________________
Daftar Pustaka
Secara bahasa Aqidah diambil dari kata العقد yang artinya ربط الشئ , yaitu mengikat sesuatu atau sesuatu yang terikat kokoh, dikatakan ( واعتقدت كذا عقدت عليه القلب والضمير ) yakin dan meyakini sesuatu dengan hati dan perasaannya .
Sedangkan menurut istilah, adalah hal-hal yang di ketahui seseorang dan yang diyakini dengan hatinya berupa berbagai perkara agama , definisi lain mengatakan bahwa Aqidah adalah Iman kepada Allah, para malaikatnya, Kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, Hari Akhir, dan Qodho’ serta Qadr baik atau buruknya, dan segala perkara-perkara I’tiqodiyah yang wajib diimani/diyakini dan tidak ada keraguan .
Urgensi Aqidah
Aqidah Ash-Shohihah ialah Sebuah Asas atau akar yang berdiri diatasnya agama dan bersamanya sahnya segala amalan/pekerjaan, Seperti Firman Allah dalam surat Al-Kahfi dan Az-Zumar, yang Artinya :
“ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. ( Al-Kahfi : 110 )
“ Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi” ( Az-Zumar : 56 )
Ayat-ayat mulia diatas serta makna yang terkandung didalamnya menunjukkan bahwasanya segala amalan-amalan tidak akan diterima kecuali terbebas dari perkara Syirk atau tanpa adanya Aqidah serta keyakinan. Dengan itu Rasulullah SAW lebih memperhatikan tentang perbaikan Aqidah yaitu dengan melakukan da’wah pertama kali untuk menyembah kepada Allah dan meninggalkan penyembahan selain-Nya, seperti firman Allah yang Artinya :
“ Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) ”. ( An-Nahl : 36 )
Dan setiap Rasul pun berkata untuk Ber-I’tiqod kepada Allah pada tiap awal Khutbahnya kepada para umatnya ( Nabi Nuh, Saleh, Syu’aib dan para nabi lainnya ), seperti tertera pada firman Allah surat Al-A’raf ayat 59,65,73 dan 85, yaitu :
Artinya : “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya”.
Kemudian dicontohkan lagi oleh baginda Rasulullah SAW ketika berada di makkah selama 13 tahun, beliau berseru kepada Manusia untuk bertauhid dan memperbaiki Aqidah-aqidah mereka karena aqidah adalah asas/akar yang akan membangun sebuah agama. Itu pun dicontoh oleh para Ulama’ dan Da’i pada setiap Zaman dengan memulai dakwahnya dengan berseru untuk bertauhid dan memperbaiki Aqidah kemudian beralih setelahnya kepada perkara-perkara agama lainnya.
Prinsip-Prinsip Dalam Aqidah
Disalin dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah oleh Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan Dar Al-Gasem PO Box 6373 Riyadh Saudi Arabia, penerjemah Abu Aasia
- Beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasulrasul-Nya, Hari Akhir dan Taqdir baik dan buruknya.
- Bahwasanya iman itu perkataan, perbuatan dan keyakinan yang bisa bertambah dengan keta'atan dan berkurang dengan kema'shiyatan, maka iman itu bukan hanya perkataan dan perbuatan tanpa keyakinan sebab yang demikian itu merupakan keimanan kaum munafiq, dan bukan pula iman itu hanya sekedar ma'rifah (mengetahui) dan meyakini tanpa ikrar dan amal sebab yang demikian itu merupakan keimanan orang-orang kafir yang menolak kebenaran.
- Bahwasanya tidak mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin kecuali apabila dia melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya.
- Wajibnya ta'at kepada pemimpin kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kema'shiyatan, apabila mereka memerintahkan perbuatan ma'shiyat, dikala itulah kita dilarang untuk menta'atinya namun tetap wajib ta'at dalam kebenaran lainnya.
- Haramnya keluar untuk memberontak terhadap pemimpin kaum muslimin apabila mereka melakukan hal-hal yang menyimpang, selama hal tersebut tidak termasuk amalan kufur.
- Bersihnya hati dan mulut mereka terhadap para sahabat Rasul
- Mencintai ahlul bait sesuai dengan wasiat Rasulullah
- Membenarkan adanya karamah para wali, yaitu apa-apa yang Allah perlihatkan melalui tangan-tangan sebagian mereka berupa hal-hal yang luar biasa sebagai penghormatan kepada mereka sebagaimana hal tersebut telah ditunjukkan dalam AlQur’an dan As Sunnah.
- Dalam berdalil selalu mengikuti apa-apa yang dating dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah
________________________________________________________________
Daftar Pustaka
- التوحيد للصف الرابع, معهد دار السلام كونتور فونورغو
- Lajnah Ilmiyyah bi Ma’had al-Aimmah wa al-Khutaba. Dasar-dasar Aqidah Islam. Wamy Jakarta 1998
- Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan. Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Dar Al-Gasem Riyadh Saudi Arabia, penerjemah Abu Aasia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar